Apa Salahnya Harga BBM Dinaikkan?
Waduh,,, malem ini panas banget jalan-jalan ke blog orang. Kenapa? karena lagi pada ngomongin naiknya harga BBM. Pada protas-protes. Semua analisis dikeluarkan, beragam makian meluncur kepada pemerintah. Ada yang bilang BLT itu pembodohan, juga di sini. Ada yang bilang pemerintah itu tidak bernurani. Kenapa sih semuanya pada nolak kenaikan harga BBM?
Ga kalah para mahasiswa pun ikut meneriakkan keras-keras anti kenaikkan harga BBM. Bahkan sampai beberapa ada yang menghasilkan bentrok dengan aparat keamanan. Mungkin mereka bisa saja mengelak dan mengatakan bahwa yang menyebabkan bentrok itu adalah provokator. Tapi apa bisa alasan seperti itu diterima? Apa mereka mampu untuk menangkal para provokator itu? Oleh karena itu saya berani mengatakan bahwa mereka sendirilah yang memicu adanya provokator tersebut. Ada saja kemungkinan apa yang saya takutkan akan terjadi kembali. Hanya Allah lah yang tahu.
Ok lah. Mari kita tinggalkan semua itu, kita lihat dari perspektif lain. Saya yakin mayoritas rakyat Indonesia adalah muslim. Jadi sudah seharusnya kita tahu tuntunan agama Islam yang mulia dalam menghadapi pemerintah, bagaimanapun bentuknya. Mungkin setelah membaca tulisan saya semoga akan menjadi damai lah hati orang-orang itu. Dan itu semua karena Allah, alhamdulillah. Tapi yang namanya manusia, pasti akan ada yang bersikap kontra dengan tulisan ini. Mungkin saya akan dikatakan pendukung pemerintah, pengecut, dan sebagainya. Tenang saja, saya ga akan mempedulikannya. Saya hanya menulis dan menyampaikan, bukan memaksa semua orang menerima.
Jadi apa yang harus dilakukan? Apa kita kudeta saja? Atau kita demo? Atau gimana? Mungkin apa yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari rahimahullah dan juga Muslim rahimahullah bisa menjawabnya.
Dari Ibnu Abbas radliyallahu’anhuma, dia berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang melihat sesuatu yang tidak dia sukai dari penguasanya, maka bersabarlah! Karena barangsiapa yang memisahkan diri dari jamaah sejengkal saja, maka ia akan mati dalam keadaan mati jahiliyyah.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Ya, bersabarlah! Dan jangan lupakan yang ini.
Diriwayatkan dari Junadah bin Abu Umayyah radliyallahu’anhu, dia berkata: “Kami masuk ke rumah Ubadah bin Ash-Shamit ketika beliau dalam keadaan sakit dan kami berkata kepadanya: ‘Sampaikanlah hadits kepada kami –aslahakallah- dengan hadits yang kau dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dengannya Allah akan memberikan manfaat bagi kami!’ Maka ia pun berkata:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil kami kemudian membai’at kami. Dan di antara baiatnya adalah agar kami bersumpah setia untuk mendengar dan taat ketika kami semangat ataupun tidak suka, ketika dalam kemudahan ataupun dalam kesusahan, ataupun ketika kami diperlakukan secara tidak adil. Dan hendaklah kami tidak merebut urusan kepemimpinan dari orang yang berhak –beliau berkata- kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata, yang kalian memiliki bukti di sisi Allah.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya juz 13 hal.192, cet. Maktabatur Riyadh Al-Haditsah, Riyadh. HR. Muslim dalam Shahih-nya, 3/1470, cet. Daru Ihya-ut Turats Al-Arabi, Beirut, cet. 1)
Jadi, kudeta bukanlah jalan yang kita tempuh. Mungkin yang kita alami sekarang sama seperti apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah beritahukan berabad-abad yang lalu.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radliyallahu’anhu, dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
‘Akan muncul setelahku atsarah (orang-orang yang mengutamakan diri mereka sendiri dan tidak memberikan hak kepada orang yang berhak -red) dan perkara-perkara yang kalian ingkari’. Mereka (para shahabat -red) bertanya: ‘Apa yang engkau perintahkan kepada kami wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam” Beliau berkata:
“Tunaikanlah kewajiban kalian kepada mereka dan mintalah hak kalian kepada Allah.”(Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya)
Diriwayatkan pula dari ‘Adi bin Hatim radliyallahu’anhu. Dia berkata: “Kami mengatakan: Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kami tidak bertanya tentang ketaatan kepada orang-orang yang takwa, tetapi orang yang berbuat begini dan begitu…(disebutkan kejelekan-kejelekan), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
‘Bertakwalah kepada Allah! Dengar dan taatlah!’ (Hasan lighairihi, diriwayatkan oleh Ibnu Abu ‘Ashim dalam As-Sunnah dan lain-lain. Lihat Al-Wardul Maqthuf, hal. 32)
Ya, sabarlah dan taatlah. Itulah yang seharunya kita lakukan bersama. Dan seperti inilah nasehat seorang ulama.
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Kesimpulannya adalah sabar terhadap kedzaliman penguasa dan bahwasanya tidak gugur ketaatan dengan kedzaliman mereka.” (Syarah Shahih Muslim, 12/222, cet. Darul Fikr Beirut)
Diriwayatkan dari Suwaid bin Ghafalah radliyallahu’anhu. Dia berkata: “Berkata kepadaku ‘Umar radliyallahu’anhu: ‘Wahai Abu Umayyah, aku tidak tau apakah aku akan bertemu engkau lagi setelah tahun ini…, jika dijadikan amir (pemimpin) atas kalian seorang hamba dari Habasyah, terpotong hidungnya maka dengarlah dan taatlah! Jika dia memukulmu, sabarlah! Jika mengharamkan untukmu hakmu, sabarlah! Jika ingin sesuatu yang mengurangi agamamu, maka katakanlah aku mendengar dan taat pada darahku bukan pada agamaku, dan tetaplah kamu jangan memisahkan diri dari jamaah!”
Sebagai penutup ada baiknya kita baca nasehat dari Al Ustadz Abdul Mu’thi tentang wasiat Nabi kita yang terabaikan. Dengan artikel tersebut semoga menjadi sejuklah hati kita.

