Politik sama dengan Uang….
Akhir-akhir ini sering kali dapat kita lihat di layar televisi, bagaimana para calon pemimpin bangsa ini mulai dari presiden, gubernur dan bahkan bupati berlomba-lomba untuk mempromosikan diri mereka sendiri sebagai calon pemimpin bangsa ini. Mereka membuat sebuah iklan di layar televisi yang menggambarkan sosok mereka, visi dan misi merka untuk memajukan kesejahteraan rakyat, serta janji-janji lain yang diumbar yang disertai pula sebuah slogan.
Iklan-iklan para pemimpin ini telah menunjukkan bahwa bagaimana untuk menjadi seorang pemimpin ataupun wakil rakyat harus mempunyai uang yang banyak. Karena mereka harus membuat iklan-iklan di layar televisi yang itu akan sangat membutuhkan budget yang tidak sedikit. Karena dengan iklan itu maka masyarakat luas pun akan mengenal mereka. Oleh karena itu, antara calon yang satu dengan yang lain saling berlomba membuat iklan-iklan yang benar-benar menyentuh hati rakyat teruatama dari kalangan menengah ke bawah. Dengan tindakan yang menjadikan iklan di televisi sebagai sebuah media kampanye yang membutuhkan budget yang besar berarti bahwa politik adalah uang. Jika tidak mempunyai uang yang banyak maka kita pasti tidak akan mendapatkan sebuah jabatan yang terpandang.
Lalu, salah satu imbas politik adalah uang adalah tindakan korupsi. Tindakan korupsi bisa jadi karena ketika seorang pemimpin yang dulu waktu kampanye mengeluarkan uang yang tidak sedikit maka pemimpin itu pasti akan mencari uang pengganti dana kampanye yang sudah dikeluarkan. Nah, dari situlah maka timbulah korupsi. Dana kampanye yang besar mesti diganti, jangan sampai mereka rugi. Oleh karena itu mereka megkorupsi uang rakyat untuk mengganti dana tersebut.
Inilah sebuah gambaran sedikit mengenai perpolitikan yang terjadi di Indonesia, yaitu ada uang ada jabatan. Tapi memang tidak bisa dipungkiri kemampuan individual seorang calon pemimpin masih juga diperhitungkan dalam pemilihan pemimpin bangsa.

