Main Hakim Sendiri
Dalam perjalanan pulang ku menuju Depok, untuk kali pertamanya aku melihat sebuah tindakan main hakim sendiri. Tindakan ini terjadi di salah satu stasiun menuju Bogor, karena memang saat itu aku naik kereta ekonomi tujuan Jakarta-Bogor. Tindakan main hakim sendiri ini disebabkan karena adanya seorang copet yang mungkin karena keberuntungan sedang tidak berpihak padanya pada hari itu, dia ketahuan. Dan pada akhirnya dia dikeroyok massa. Massa menghakimi copet itu dengan menimpukinya dan memukulnya. Hal ini dilakukan oleh massa karena memang mereka pasti jengkel dengan ulah si copet itu yang telah mengambil barang yang bukan hak nya. Si copet itu tentu berteriak-teriak meminta tolong. Tapi tetap saja massa tidak menghentikan aksi main hakim sendiri itu. Untungnya saja, datang seorang petugas dari stasiun itu untuk menghentikan tindakan main hakim sendiri massa tersebut. Akhirnya si copet itu terselamatkan juga dari amukan massa. Si copet itu yang merasa sangat kesal dengan tindakan massa kemudian berteriak-teriak “wey, gue ini pedagang! bukan copet! sial!”
Tindakan main hakim sendiri ini memang seringkali terjadi di negara kita. Entah kenapa penyebab tindakan main hakim sendiri ini selalu tidak dapat dihindari ketika ada sebuah kejadian kriminal misalnya saja pencopetan ataupun penjambretan yang terjadi di tempat umum. Apakah memang kesadaran hukum di bangsa ini yang kurang atau ada penyebab-penyebab lain yang mendukung tindakan main hakim sendiri di kalangan masyarakat.
Aku sempat berpikir penyebab dari tindakan main hakim sendiri ini adalah didasari oleh sebuah rasa solidaritas antar warga masyarakat. Solidaritas yang kemudian menimbulkan rasa ingin menolong ketika orang lain mengalami kesusahan. Yang pada akhirnya kemudian menimbulkan hak atas mereka untuk menghukum siapa saja yang membuat orang lain itu dalam kesusahan. Lihat saja, seperti kejadian di atas. Solidaritas mereka kemudian diwujudkan dalam tindakan amuk massa terhadap copet itu. Memang bagus rasa solidaritas yang timbul pada masyarakat itu akan tetapi mungkin mereka salah dalam mengaplikasikan solidaritas mereka itu.












